TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN

TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN (Toha,2012:32)

  1. TEORI SIFAT (TRAIT THEORY)

Teori awal tentang sifat ini dapat ditelusuri kembali pada zaman Yunani kuno dan zaman Roma. Pada waktu itu orang percaya bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukannya dibuat. Teori Great Man menyatakan bahwa seseorang dilahirkan sebagai pemimpin akan menjadi pemimpin tanpa memperhatikan apakah ia mempunyai sifat atau tidak mempunyai sifatsebagai pemimpin.

Teori great man barangkali dapat memberikan arti lebih realistis terhadap pendekatan sifat dari pemimpin, setelah mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi adalah suatu kenyataan yang dapat diterima bahwa sifat-sifat kepemimpinan itu tidak seluruhnya dilahirkan, tetapi dapat juga lewat suatu pendidikan dan pengalaman.

 

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin dalam suatu organisasi dibutuhkan latar belakang pendidikan dan pengalaman disuatu organisasi. Dengan pendidikan dan dan pengalaman tersebut, pemimpin bisa menjalankan tugasnya sebagai pemimpin yang berkompetensi dan mempunyai pengalaman yang tinggi intuk memimpin organisasi yang menaunginya.

 

  1. TEORI KELOMPOK

Tori kelompok dalam kepemimpinan ini memiliki dasar perkembangan yang berakar pada psikologi sosial. Teori kelompok ini beranggapan bahwa, supaya kelompok bisa mencapai tujuan-tujuannya, harus terdapat suatu pertukaran yang positif di antara pemimpin dan pengikut-pengikutnya. Hal tersebut melibatkan pula konsep-konsep sosiologi tentang keinginan-keinginan mengembangkan peranan. Penelitian psikologi sosial dapat digunakan untuk mendukung konsep-konsep peranan dan pertukaran yang diterapkan dalam kepemimpinan.

Hasil dari suatu penemuan, dalam penelitiannya ini menyatakan bahwa para bawahan juga dapat mempengaruhi para pemimpinnya, seperti pemimpin dapat memengaruhi pengikut-pengikutnya/para bawahannya. Suatu contoh penemuan Greene menyatakan bahwa ketika para bawahan tidak melaksankana pekerjaan secara baik, maka pemimpin akan memberikan penekanan struktur pengambilan inisiatif (perilaku tugas). Tetapi ketika para bawahan dapat melaksanakan pekerjaan secara baik, maka pemimpin akan menaikkan pada penekanannya pada pemberian perhatian (perilaku tata hubungan). Barrow dalam peneliatanna menemukan bahwa produktivitas kelompok mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap gaya kepemimpinan dibandingkan dengan pengaruh gaya kepemimpinan tehadap produktivitasnya.

 

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa para bawahan dapat memengaruhi pemimpinnya. Jika kinerja bawahannya baik maka akan dapat memengaruhi produktivitas perusahaan, sehingga pemimpin akan merasa untung dengan kinerja bawahannya. Hal tersebut dapat dibuktikan jika pemimpin memberikan penghargaan pada bawahannya yang kinerjanya baik, maka bawahan akan lebih meningkatkan kinerjanya, otomatis pemimpin mendapatkan untung dan produktivitas perusahaan meningkat.

 

  1. TEORI SITUASIONAL dan MODEL KONTIJENSI

Pada sekitar tahun 1940 ahli-ahli psikologi sosial memulai meneliti beberapa variabel situasional yang mempunyai pengaruh terhadap peranan kepemimpinan, kecakapan, dan perilakunya, berikut pelaksanaan kerja dan kepuasan para pengikutnya. Berbagai variabel situasional diidentifikasikan, tetapi tidak semua ditarik oleh teori situasional ini. Kemudian sekitar tahun 1967, Fred Fiedler mengusulkan suatu model berdasrkan situasi untuk efektivitas kepemimpinanaya. Konsep model ini dituangkan dalam bukunya yang terkenal A Theory of Leadership Effectiveness.

Fiedler mengembangkan suatu teknik yang unik untuk mengukur gaya kepemimpinan. Pengukuran ini diciptakan dengan memberikan suatu skor yang dapat menunjukkan Dugaan Kesamaan diantara Keberlawanan (Assumed Similaritybetween Opposites, ASO) dan Teman Kerja yang paling sedikit disukai (Least Preferred Coworker, LPC). ASO memperhitungkan derajat kesamaan di antara persepsi-persepsi pemimpin mengenai kesenangan yang paling banyak dan paling sedikit tentang kawan-kawan kerjanya.

Dua pengukuran tersebut ada hubungannya dengan gaya kepemimpinan, sebagai berikut:

  1. Hubungan kemanusiaan dihubungkan pemimpin yang tidak melihat perbedaan yang besar di antara teman kerja yang paling banyak dan paling sedikit disukai (ASO) atau memberikan suatu gambaran yang relatif menyenangkan kepada teman kerja yang paling sedikit disenangi (LPC).
  2. Gaya yang berorientasi tugas dihubungkan dengan pemimpin yang melihat suatu perbedaan besar di antara teman kerja yang paling banyak dan paling sedikit disenangi (ASO) dan memberikan suatu gambaran yang paling sedikit diskusi (LPC).

Dari beberapa pernyataan di atas maka dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan yang dikombinasikan dengan situasi akan mampu menentukan keberhasilan pelaksanaan kerja.

  1. MODEL KEPEMIMPINAN KONTIJENSI DARI FIEDLER

Dari penelitian-penelitiannya terdahulu, Fiedler mengembangkan suatu model yang dinamakan Model Kontijensi Kepemimpinan yan efektif. Model ini berisi tentang hubunga antara gaya kepemimpinana dengan situasi yang menyenangkan. Adapun situasi yang menyenangkan itu diterangakan oleh Fiedler dalam hubungannya dimensi-dimensi empiris berikut:

  1. Hubungan pimpinan anggota

Hal ini merupakan variabel yang paling penting di dalam menentukan situasti yang menyenangkan tersebut.

  1. Derajat dari struktur tugas

Dimensi ini merupakan masukan yang amat penting kedua, dalam menentukan situasi yang menyenangkan.

  1. Posisi kekuasaan pemimpin yang dicapai lewat otoritas formal

Dimensi ini merupakan dimensi yang amat penting ketiga di dalam situasi yang menyenangkan.

Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan berhubungan dengan situasi yang terjadi disekitarnya. Ada situasi yang menyenangkan maupun situasi yang tidak menyenangkan. Dalam teori ini pemimpin mempunyai tugas atau kekuasaan penuh terhadap tugasnya serta pemimpin mendapatkan dukungan moral dari bawahannya. Karena di sini pimpinan hanya berorientasi pada tugasnya sehingga tidak perlu musyawarah atau berdiskusi dengan bawahannya.

  1. TEORI JALAN KECIL-TUJUAN (PATH-GOAL THEORY)

Dalam teori path-goal menggunakan kerangka teori motivasi. Hal ini meupakan pengembangan  yang sehat karena kepemimpinan di satu pihak sangat berhubunga erat dengan motivasi kerja, dan pihak lain berhubungan dengan kekuasaan.

Teori pat-goal mempunyai empat tipe gaya kepemimpinan yaitu:

  1. Kepemimpinan direktif

Dalam model ini bawahan tahu dengan pasti apa yang diharapkan darinya dan pengarahan yang khusus diberikan oleh pemimpin. Dalam model ini tidak ada partisipasi bawahan.

  1. Kepemimpinan yang mendukung

Model ini mempunyai kesediaan untuk menjelaskan sendiri, bersahabat, mudah didekati, dan mempunyai perhatian kemanusiaan yang murni terhadap para bawahannya.

  1. Kepemimpinan partisipatif

Pada gaya kepemimpinan ini pemimpin berusaha meminta dan menggunakan saran-saran dari para bawahannya. Namun pengambilan keputusan masih tetap berada padanya.

  1. Kepemimpinan yang berorientasi pada prestasi

Gaya kepemimpinan ini menetapkan serangkaian tujuan yang menantang para bawahannya untuk berpartisipasi. Pemimpin juga memberikan keyakinan kepada para bawahannya bahwa mereka mampu melaksanakan tugas mencapai tujuan yang secara baik.

 

Dari beberapa pernyataan yang ada di atas dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan tersebut dapat dilaksankan atau terjadi oleh pemimpin yang sama dalam situasi yang berbeda.

 

  1. PENDEKATAN SOCIAL LEARNING DALAM KEPEMIMPINAN

Pendekatan social learning tampaknya memberikan pemecahan yang terbaik dari semua tantangan-tantangan tersebut. Pendekatan ini memberikan suatu dasar untuk suatu model konsepsi yang menyeluruh bagi perilaku. Teori ini menekankan bahwa terdapat faktor penentu yang timbal balik dalam kepemimpinan ini. Faktor penentu itu ialah pemimpin sendiri, situasi lingkungan, dan perilakunya sendiri.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan mempunyai timbal balik terhadap faktor-faktor penentu.

 

Referensi: Thoha, Miftah. 2012. Kepemimpina Dalam Manajemen. Jakarta: Rajawali Pers.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s